AUFKLARUNG
( ZAMAN PENCERAHAN )
Disusun sebagai Syarat untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
“Kajian Peradaban Islam Barat dan Timur”
(Dosen Pengampu: Asep Daud Kosasih, S.Pd., M.Ag.)

Disusun oleh Kelompok 4:
1.
Eva Novrianti ( 1101020050
)
2.
Sofia Rizka ( 1101020049
)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2013
BAB
I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Sebagaimana
lazimnya suatu dialog intelektual, disatu sisi terdapat bagian yang
dilestarikan dan sisi lain ada bagian dikritisi atau diserang bahkan mungkin
ada bagian yang ditolak. Didunia Islampun muncul pelestari warisan
Yunani,Persia dan Romawi, namun juga banyak yang melakukan kritik terhadapnya.
Disinilah tampak dinamika intelektual. Konsep Ide Plato trus dipelajari dan
dikembangkan,begitu juga konsep Akal dan Logika Aristoteles serta konsep
Emanasi Plotinus. Semunya tetap dijadikan pijakan. Ini membuktikan bahwa ketiga
filsuf tersebut yang nota bene merupakan para pionir memiliki pengaruh yang
sangat besar dalam membentuk pola pikir para filusuf generasi berikutnya tidak
terkecuali Immauel Kant,Filsuf kelahiran Jerman yang abad ke-18.Menurut
Kant,Fiksafat adalah ilmu (Pengetahuan) yang menjadi pangkal dari semua
pengetahuan yang di dalamnya tercakup masalah epistemologi yang menjawab
persoalan apa yang dapat kita ketahui.Tampak adanya perbedaan yang menyolok
antara abad ke-17 dan abad ke-18. Abad ke-17 membatasi diri pada usaha
memberikan tafsiran baru terhadap kenyataan bendawi dan rohani,yaitu
kenyataan yang mengenai manusia,dunia dan Allah.dan tokoh-tokoh filsafat di era
ini adalah juga tokoh-tokoh gereja sehingga mereka tidak lepas dari isu-isu
ketuhanan,Yesus dan sebagainya.1Akan tetapi abad ke-18 menganggap
dirinya mendapat tugas untuk meneliti secara kritik (sesuai dengan
kaidah-kaidah yang diberikan akal)segala yang ada,baik didalam negara maupun
didalam masyarakat.2John Locke yang mendominasi filsafat pada
abad ke-18, seperti sahabatnya, Newton yang mendominasi ilmu pada periode yang
sama.Awal abad ke-18 adalah masa yang gemilang. Eropa sembuh dari kekalutan
selamah dua abad sebelumnya. Ini tentu sangat berbeda kondisinya dengan tradisi
keilmuan dalam Islam pada abad yang sama.Menurut Dr.Harun Hadiwijono,dahulu
filsafat mewujudkan suatu pemikiran yang hanya menjadi hal istimewa beberapa
ahli saja,tetapi sekarang orang berpendapat,bahwa seluruh umat manusia berhak
turut menikmati hasil-hasil pemikiran filsafat dan juga menjadi tugas filsafat.
B. Rumusan
Masalah
1. Apakah
yang dimaksud Aufklarung ?
2. Bagaimana
Definisi Filsafat abad ke-18 Era Aufklarung ?
3. Sebutkan
Negara yang mengalami Zaman Pencerahan (Aufklarung) !
4. Sebutkan
Aliran-Aliran yang muncul pada Zaman Pencerahan !
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Aufklarung
Aufklarung adalah suatu
pergerakan intelektual abad ke-18, yang berasal dari Eropa Barat (Inggris dan
Perancis). Simbol Aufklärung adalah matahari terbit, matahari yang bersinar dan
menyinari seluruhya. Metafora dari cahaya ini bermakna Akal Budi.
Di Perancis akar dari
Aufklärung berasal dari Rene Descartes (1596-1650), pernyataannya “Cogito, ergo
sum” (Ich denke, also bin Ich) memulai percobaan analisa Pemikiran murni.
Baginya, Akal Budi menjadi instrumen pengetahuan yang paling penting (Rasionalisme).
Pada zaman ini Ilmu Pengetahuan terpisah dari ikatannya dengan Religi.
Dari Inggris datang ajaran Empirismus, menggantikan
dari seluruh ajaran John Locke (1632-1704). Baginya, sumber pemikiran dan
pengetahuan bukanlah Akal Budi, melainkan persepsi Pikiran dan Pengalaman.
Pandangan ini kemudian dibangkitkan lagi oleh David Hume (1711-1776), ia
mengatakan bahwa kesadaran manusia diperoleh melalui Assosiasi dan Pengalaman.
Di Jerman
G.W Leibniz (1646-1716) dipandang sebagai pelopor Aufklärung. Ajaran monade-monadenya
menekankan pentingnya seluruh lapisan tingkatan dari kumpulan-kumpulan sel
terkecil sampai akhirnya kepada Tuhan. Setiap lapisan (Monede) meminggal
“seluruh kemungkinan terbaik Dunia”, dari Peralihan ke dalam monade tertinggi
berikutnya.
Christian
Wolff (1679-1754) menciptakan sistem filsafatnya (Konstruksi dari Aufklärung
Perancis dan Inggris):
“Apakah
logis menyimpulkan, Akal Budi, maupun baik secara Moral". Kesusastraan dan
Filsafat tidak berdiri di dalam Aufklärung – seperti di zaman Barock – dalam
hubungannya dengan Musik, tilisan, atau Arsitektur. Kesusastraan Aufklärung
mencetak tentang upaya-upaya pedagogis. Pelajaran tentang peristiwa-peristiwa
dan Akal Budi menjadi sebagai pandangan yang paling penting. Bagi Wolff,
kebahagiaan menjadi tujuan manusia disetiap Handlung.
Menurut Gottsched (1700-1766), Kesusastraan Aufklärung di Jerman berasal dari Alam
Tiruan. pada abad ke-18 pemain drama dan perkembangan teori drama memainkan
peranan besar. Gottsched memperhatikan Drama 'Kekasih' Perancis di dalam
"Versache einen Christischen Dichtkunst" sebagai contoh teladan,
melalui terjemahannya itu, ia ingin memperkenalkan kepada publik di Jerman.
Gottsched mengangkat tuntutan tentang 3 kesatuan (Handlung, Tempat dan Waktu).
Ia menuntut di dalam Fabel sebagai inti drama. Penampilan karakter personen di
dalam drama juga penting. Karena penciptaan karakter di dalam Handlung
ditentukan oleh karakter utama.
B. Definisi
Filsafat abad ke-18,era Aufklarung ( Zaman Pencerahan)
Filsafat abad ke-18 di
Jerman disebut Zaman Aufklarung atau zaman pencerahan yang di Inggris dikenal dengan Enlightenment,yaitu suatu zaman baru
dimana seorang ahli pikir yang cerdas mencoba menyelesaikan pertentangan antara
rasionalisme dengan empirisme. Zaman ini muncul dimana manusia lahir dalam
keadaan belum dewasa dalam pemikiran filsafatnya. Namun setelah Immanuel Kant
mengadakan penyelidikan dan kritik terhadap peran pengetahuan akal barula
manusia terasa bebas dari otoritas yang datang dari luar manusia demi kemajuan
peradaban manusia. Pemberian nama ini juga dikarenakan pada zaman itu manusia mencari cahaya baru
dalam rasionya. Immanuel Kant mendefenisikan zaman itu dengan mengatakan,
“Dengan Aufklarung dimaksudkan bahwa manusia keluar dari keadaan tidak balig
yang dengannya ia sendiri bersalah.” Apa sebabnya manusia itu sendiri yang
bersalah? Karena manusia itu sendiri tidak menggunakan kemungkinan yang ada
padanya,yaitu rasio.
Sebagai latar
belakangnya,manusia melihat adanya kemajuan ilmu pengetahuan (ilmu pasti,biologi,filsafat dan sejarah)
telah mencapai hasil yang menggembirakan . Disisi lain jalannya filsafat
tersendat-sendat. Untuk itu diperlukan upaya agar filsafat dapat berkembang
sejajar dengan ilmu pengetahuan alam. Isaac Newton ( 1642-1727) memberikan dasar-dasar berpikir dengan induksi,yaitu
pemikiran yang bertitik tolak pada gejala-gejala dan mengembalikan kepada dasar-dasar
yang sifatnya umum. Untuk itu dibutuhkan analisis. Dengan demikian zaman
pencerahan merupakan tahap baru dalam proses emansipasi manusia Barat yang sudah
dimulai sejak Renaissance dan Reformasi.
Prof. Dr. Juhaya S.
Praja,Aliran-aliran filsafat dan Etika(Cet II: Jakarta:Prenada Media
2005).h.113.
Para tokoh era
Aufklarung ini juga merancang program-program
khusus diantaranya adalah berjuang menentang dogma gereja dan takhayul
populer. Senjatanya adalah fakta-fakta ilmu dan metode-metode rasional.
C. Negara
yang Mengalami Zaman Pencerahan ( Aufklarung )
1. Jerman
Pada umumnya Pencerahan
di Jerman tidak begitu bermusuhan
sikapnya terhadap agama Kristen seperti yang terjadi di Perancis.
Memang orang juga berusaha menyerang dasar-dasar iman kepercayaan yang
berdasarkan wahyu, serta menggantinya dengan agama yang berdasarkan perasaan
yang bersifat pantheistic, akan tetapi semuanya itu berjalan tanpa “perang’
terbuka.Yang menjadi pusat perhatian di Jerman adalah etika. Orang
bercita-cita untuk mengubah ajaran kesusilaan yang berdasarkan wahyu menjadi
suatu kesusilaan yang berdasarkan kebaikan umum, yang dengan jelas menampakkan
perhatian kepada perasaan. Sejak semula pemikiran filsafat dipengaruhi oleh
gerakan rohani di Inggris dan di Perancis. Hal itu mengakibatkan bahwa filsafat
Jerman tidak berdiri sendiri.
Para perintisnya di
antaranya adalah Samuel Pufendorff(1632-1694), Christian Thomasius (1655-1728).
Akan tetapi pemimpin yang sebenarnya di bidang filsafat adalah Christian Wolff
(1679- 1754).
la mengusahakan agar
filsafat menjadi suatu ilmu pengetahuan yang pasti dan berguna, dengan
mengusahakan adanya pengertian-pengertian yang jelas dengan bukti-bukti yang
kuat. Penting sekali baginya adalah susunan sistim filsafat yang bersifat
didaktis, gagasan-gagasan yang jelas dan penguraian yang tegas. Dialah yang
menciptakan pengistilahan-pengistilahan filsafat dalam bahasa Jerman dan
menjadikan bahasa itu menjadi serasi bagi pemikiran ilmiah. Karena pekerjaannya
itu filsafat menarik perhatian umum.
Pada dasarnya
filsafatnya adalah suatu usaha mensistimatisir pemikiran Leibniz dan menerapkan
pemikiran itu pada segala bidang ilmu pengetahuan. Dalam bagian-bagian yang
kecil memang terdapat penyimpangan-penyimpangan dari Leibniz.
Jerome R. Ravertz,The
Philosophy of Science,diterjemahkan oleh Saut Pasaribu.(Cet I: Yogyakarta:
Pustaka Pelajar 2004).
Dr.Haru Sari Sejarah.
Hingga munculnya Kant yang filsafatnya
merajai universitas-universitas di Jerman.Orang yang seolah-olah dengan
tiba-tiba menyempurnakan Pencerahan adalah Immanuel Kant (1724-1804). Yang
merupakan Filsuf yang pengaruhnya terhadap filsafat pada dua ratus tahun
terakhir ini,baik di Barat maupun di Timur, hampir secara universal diakui
sebagai filsuf terbesar sejak masa Aristoteles. Ada yang berpendapat bahwa
filsafat pada dua ratus tahun terakhir ini bagaikan catatan kaki terhadap
tulisan-tulisannya. Ada juga yang berpendapat sistem filsafatnya bagi dunia
modern ini laksana Aristoteles bagi dunia skolastik.
Kant lahir di Konigserg, Prusia
Timur,Jerman.Pikiran-pikiran dan tulisan-tulisannya membawa revolusi yang jauh
jangkauannya dalam filsafat modern.ia hidup dizaman Scepticism Sebagian besar
hidupnya telah ia pergunakan untuk mempelajari logical process of thought (proses penalaran logis),the external
world (dunia eksternal) dan reality of things (realitas segala yang wujud Kehidupannya
dalam dunia filsuf dibagi dalam dua periode: zaman pra-kritis dan zaman kritis.
Pada zaman pra-kritis ia menganut pendirian rasionalis yang dilancarkan oleh
Wolff dkk. Tetapi karena terpengaruh oleh David Hume ( 1711-1776),
berangsur-angsur Kant meninggalkan rasionalisme. Ia sendiri mengatakan bahwa
Hume itulah yang membangunkannya dari tidur dogmatisnya. Pada zaman kriitsnya ,
Kant merubah wajah filsafatnya secara radikal.Dilingkungan masyarakatnya,Kant
sering menjadi subjek karikatur secara tidak wajar,semisal bahwa rutinitas
hariannya amat kaku sampai-sampai para tetangganya menyetel arloji mereka
menurut kedatangan dan kepergiannya setiap hari,namun cerita semacam ini
mungkin justru mencerminkan integritas kehidupannya yang bersesuaian dengan
ide-idenya sendiri jika kita ingin menilainya secara positif.ketika
meninggal,epitaf di batu nisannya hanya bertuliskan“ Sang Filsuf “ sebuah
sebutan yang dianggap tepat,dengan mempertimbangkan bahwa periode filsafat yang
bermula dengan tampilnya Sokrates menjadi lengkap dalam banyak hal dengan
hadirnya Kant.
Dengan munculnya Kant dimulailah zaman
baru, sebab filsafatnya mengantarkan suatu gagasan baru yang memberi arah
kepada segala pemikiran filsafat la
sendiri memang merasa, bahwa is meneruskan Pencerahan.
Prof. Dr. Juhaya
Stephen Palimous,The Tree of Philosophy,
diterjemahkan oleh Muhammad Shodiq.Karyanya yang terkenal dengan menampakkan
kritisismenya adalah Critique of Pure Reason. (kritik atas rasio murni) yang
membicarakan tentang reason dan knowing process yang ditulisnya selama lima
belas tahun.Bukunya yang kedua adalah Critique of Practical Reason atau kritik
atas rasio praktis yang menjelaskan filsafat moralnya dan bukunya yang ketiga
adalah Critique of judgment atau kritik
atas daya pertimbangan.
2. Inggris
Di Inggris filsafat
Pencerahan dikemukakan oleh ahli-ahli pikir yang bermacam-macam keyakinannya.
Kebanyakan ahli pikir yang seorang lepas daripada yang lain, kecuali tentunya
beberapa aliran pokok.Salah satu gejala Pencerahan di Inggris ialah yang
disebut Deisme, suatu aliran dalam filsafat Inggris pada abad ke-18, yang
menggabungkan diri dengan gagasan Eduard Herbert yang dapat disebut pemberi
alas ajaran agama alamiah.
Menurut Herbert, akal
mempunyai otonomi mutlak di bidang agama. Juga agama Kristen ditaklukkan kepada
akal. Atas dasar pendapat ini ia menentang segala kepercayaan yang berdasarkan
wahyu. Terhadap segala skeptisisme di bidang agama ia bermaksud sekuat mungkin
meneguhkan kebenaran-kebenaran dasar alamiah dari agama.
Dasar pengetahuan di
bidang agama adalah beberapa pengertian umum yang pasti bagi semua orang dan
secara langsung tampak jelas karena naluri alamiah, yang mendahului segala
pengalaman dalam pemikiran akal. Ukuran kebenaran dan kepastiannya adalah
persetujuan umum segala manusia, karena kesamaan akalnya. Isi pengetahuan itu
mengenai soal agama dan kesusilaan.
Inilah asas-asas
pertama yang harus dijabarkan oleh akal manusia sehingga tersusunlah agama
alamiah, yang berisi: a) bahwa ada Tokoh yang Tertinggi; b) bahwa manusia harus
berbakti kepada Tokoh yang Tertinggi itu; c) bahwa bagian pokok kebaktian ini
adalah kebajikan dan kesalehan; d) bahwa manusia karena tabiatnya benci
terhadap dosa dan yakin bahwa tiap pelanggaran kesusilaan harus disesali; e)
bahwa kebaikan dan keadilan Allah.
Prof .Dr.Juhaya
memberikan pahala dan
hukuman kepada manusia di dalam hidup ini dan di akhirat. Menurut Herbert, di
dalam segala agama yang positif terdapat kebenaran-kebenaran pokok dari agama
alamiah.
Pada akhir abad ke-17
dan awal abad ke-18 pandangan Herbert ini dikembangkan lebih lanjut, baik yang
mengenai unsur-unsurnya yang negatif maupun unsur-unsurnya yang positif.
3. Prancis
Pada abad ke-18
filsafat di Perancis menimba gagasannya dari Inggris. Para pelopor filsafat di
Perancis sendiri (Descartes, dll) telah dilupakan dan tidak dihargai lagi.
Sekarang yang menjadi guru mereka adalah Locke dan Newton.
Perbedaan antara
filsafat Perancis dan Inggris pada masa tersebut adalah:
Di Inggris para filsuf
kurang berusaha untuk menjadikan hasil pemikiran mereka dikenal oleh umum, akan
tetapi di Perancis keyakinan baru ini sejak semula diberikan dalam bentuk
populer. Akibatnya filsafat di Perancis dapat ditangkap oleh golongan yang
lebih luas , yang tidak begitu terpelajar seperti para filsuf. Hal ini
menjadikan keyakinan baru itu memasuki pandaangan umum. Demikianlah di
Perancis filsafat lebih eras dihubungkan dengan hidup politik, sosial dan
kebudayaan pada waktu itu. Karena sifatnya yang populer itu maka filsafat di
Perancis pada waktu itu tidak begitu mendalam. Agama Kristen diserang secara keras sekali dengan memakai
senjata yang diberikan oleh Deisme.Sama halnya dengan di Inggris demikian juga
di Perancis terdapat bermacam-macam aliran: ada golongan Ensiklopedi, yang
menyusun ilmu pengetahuan dalam bentuk Ensiklopedi, dan ada golongan
materialis, yang meneruskan asas mekanisme menjadi materialisme semata-mata.
Diantara tokoh yang
menjadi sentral pembicaraan disini adalah Voltaire (1694-1778).
Pada tahun 1726 ia
mengungsi ke Inggris. Di situ ia berkenalan dengan teori-teori Locke dan
Newton. Apa yang telah diterimanya dari kedua tokoh ini ialah: a) sampai di
mana jangkauan akal manusia, dan b) di mana letak batas-batas akal manusia.
Berdasarkan kedua hal itu ia membicarakan soal-soal agama alamiah dan etika.
Maksud tujuannya tidak lain ialah mengusahakan agar hidup kemasyarakatan
zamannya itu sesuai dengan tuntutan akal.
Dr.Harun Sari Sejarah
Mengenai jiwa
dikatakan, bahwa kita tidak mempunyai gagasan tentang jiwa (pengaruh
Locke).Yang kita amati hanyalah gejala-gejala psikis. Pengetahuan kita tidak
sampai kepada adanya suatu substansi jiwa yang berdiri sendiri.
Oleh karena agama
dipandang sebagai terbatas kepada beberapa perintah kesusilaan, maka ia
menentang segala dogma, dan menentang agama.
Di Perancis pada era
pencerahan ini juga ada Jean Jacques Rousseau (1712-1778), yang telah
memberikan penutupan yang sistematis bagi cita-cita pencerahan di Perancis.
Sebenarnya ia menentang Pencerahan, yang menurut dia, menyebarkan kesenian dan
ilmu pengetahuan yang umum, tanpa disertai penilaian yang baik, dengan terlalu
percaya kepada pembaharuan umat manusia melalui pengetahuan dan keadaban.
Sebenarnya Rousseau adalah seorang filsuf yang bukan menekankan kepada akal,
melainkan kepada perasaan dan subjektivitas. Akan tetapi di dalam menghambakan
diri kepada perasaan itu akalnya yang tajam dipergunakan.
Terkait kebudayaan
menurut Rousseau, kebudayaan bertentangan dengan alam, sebab kebudayaan merusak
manusia. (Yang dimaksud ialah kebudayaan yang berlebih-lebihan tanpa
terkendalikan dan yang serba semu, seperti yang tampak di Perancis pada abad
ke-18 itu.
Mengenai agama Rousseau
berpendapat, bahwa agama adalah urusan pribad.. Agama tidak boleh mengasingkan
orang dari hidup bermasyarakat. Kesalahan agama Kristen ialah bahwa agama ini
mematahkan kesatuan masyarakat. Akan tetapi agama memang diperlukan oleh
masyarakat. Akibat keadaan ini ialah, bahwa masyarakat membebankan kebenaran-kebenaran
keagamaan, yang pengakuannva secara lahir perlu bagi hidup kemasyarakatan,
kepada para anggotanya sebagai suatu undang-undang, yaitu tentang adanya Allah
serta penyelenggaraannya terhadap dunia, tentang penghukuman di akhirat, dsb.
Pengakuan secara lahiriah terhadap agama memang perlu bagi masyarakat, tetapi
pengakuan batiniah tidak boleh dituntut oleh negara.
Pandangan Rousseau
mengenai pendidikan berhubungan erat dengan ajarannya tentang negara dan
masyarakat. Menurut dia, pendidikan bertugas untuk membebaskan anak dari
pengaruh kebudayaan dan untuk memberi kesempatan kepada anak mengembangkan
kebaikannya sendiri yang alamiah. Segala sesuatu yang dapat merugikan
perkembangan anak yang alamiah harus dijauhkan dari anak.Di dalam pendidikan
tidak boleh ada pengertian “kekuasaan” yang memberi perintah dan yang harus
ditaati. Anak harus diserahkan kepada dirinya sendiri. Hanya dengan cara
demikian ada jaminan bagi pembentukan yang diinginkan. Juga pendidikan agama
yang secara positif tidak boleh diadakan. Anak harus memilih Sendiri keyakinan
apa yang akan diikutinya. Bagi seorang muslim,paham seperti ini tentu sangat
menyesatkan.
Harun Hadiwijono
berkesimpulan bahwa Pencerahan di Perancis memberikan senjata rohani kepada
revolusi Perancis.
D. Aliran-Aliran
yang muncul pada Zaman Pencerahan
1. Kritisisme
Aliran ini dimulai di
Inggris,kemudian Prancis dan selanjutnya menyebar keseluruh Eropa,terutama di
Jerman.Di Jerman pertentangan antara rasionalisme dan empirisme terus
berlanjut. Masing-masing berebut otonomi. Kemudian timbul masalah,siapah
sebenarnya dikatakan sumber pengetahuan? Apakah pengetahuan yang benar itu
lewat rasio atau empiri? Kant mencoba menyelesaikan persoalan diatas. Pada
awalnya Kant mengikuti rasionalisme,tetapi kemudian terpengaruh oleh empirisme
(Hume). Walaupun demikian, Kant tidak begitu mudah menerimanya, karena ia
mengetahui bahwa dalam empirisme terkandung skeptisme. Untuk itu tetap mengakui
kebenaran ilmu dan dengan akal manusia akan dapat mencapai
kebenaran.empirsme.12 ,Aliran Filsafat yang dkenal dengan kritisisme adalah
filsafat yang di introdusir oleh Immanuel Kant. Filsafat ini memulai
pelajarannya dengan menyelidiki batas-batas kemampuan rasio sebagai sumber
pengetahuan manusia.
2. Deisme
Deisme adalah suatu
aliran yang mengakui adanya yang menciptakan alam semesta ini. Akan tetapi
setelah dunia diciptakan, Allah menyerahkan dunia kepada nasibnya sendiri.
Sebab Ia telah memasukkan hukum-hukum dunia itu ke dalamnya. Segala sesuatu
berjalan sesuai dengan hukum-hukumnya. Manusia dapat menunaikan tugasnya dalam
berbakti kepada Allah dengan hidup sesuai dengan hukum-hukum akalnya.
Maksud aliran ini
adalah menaklukkan wahyu Ilahi beserta dengan kesaksian-kesaksiannya, yaitu
buku-buku Alkitab, kepada kritik akal serta menjabarkan agama dari pengetahuan
yang alamiah, bebas dari segala ajaran Gereja. Yang dipandang sebagai
satu-satunya sumber dan patokan kebenaran adalah akal.
Tokoh-tokoh yang
mewakili aliran ini di antaranya adalah John Toland (1670-1722), yang menulis
Christianity not mysterious (1696), dan Matteh Tindal (1656-1733), yang menulis
Christianity as Old as Creation (1730).
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A. Kesimpulan
Di abad ke-18 dimulai
suatu zaman baru yang memang telah berakar pada Renaissance (Masa yang juga
disebut masa keraguan,dirinya dan jiwanya saja diragukan. Yang tidak di ragukan
hanya dirinya yang ragu itu ,keraguan yang dimaksud disini adalah keraguan
metafisik ) dan mewujudkan buah pahit dari rasionalisme dan empirisme. Masa ini
disebut dengan masa pencerahan atau Aufklarung yang menurut Immanuel Kant,di
zaman ini manusia terlepas dari keadaan tidak balik yang disebabkan oleh
kesalahan manusia itu sendir yang tidak memanfaatkan akalnya. Voltaire menyebut
zaman pencerahan sebagai “zaman akal” dimana manusia merasa bebas,zaman
perwalian pemikiran manusia dianggap sudah berakhir,mereka merdeka dari segala
kuasa dari luar dirinya. Para tokoh era
Aufklarung ini juga merancang program-program
khusus diantaranya adalah berjuang menentang dogma gereja dan takhayul
populer. Senjatanya adalah fakta-fakta ilmu dan metode-metode rasional.
Di Jerman hadir sosok
Immanuel Kant yang dalam filsafat kritiknya ia bermaksud memugar sifat
objektivitas dunia ilmu pengetahuan. Agar
maksud itu terlaksana ,orang harus menghindarkan diri dari sifat sepihak
rasionalisme dan sifat sepihar empirisme.
Rasionalisme mengira telah menemukan kunci bagi pembukaan realitas pada
diri subjeknya, lepas dari pengalaman. Adapun empirisme mengira telah
memperoleh pengetahuan dari pengalaman saja. Kritisisme Kant adalah suatu usaha besar untuk
mendamaikan rasionalisme dengan empirisme.
Menurut Kant baik
rasionalisme maupun empirisme dua-duanya berat sebelah. Ia berusaha menjelaskan
bahwa pengalaman manusia merupakan perpaduan antara sintesa unsur-unsur apriori
dengan unsur-unsur aposteriori.
Di Inggris muncul paham
deisme sebagai salah satu gejala Pencerahan yang juga disebut pemberi alas
ajaran agama alamiah. Munculnya paham deisme ini sebagai bentuk penggabungan
terhadap gagasan Eduard Herbert
Menurut Herbert, akal
mempunyai otonomi mutlak di bidang agama. Juga agama Kristen ditaklukkan kepada
akal. Atas dasar pendapat ini ia menentang segala kepercayaan yang berdasarkan
wahyu.
DAFTAR PUSTAKA
·
Baumann – Oberle. 1985. Deutsche
Literatur in Epochen. Munchen: Max Hueber Verlag.
·
Ruttkowski, et.al. 1974. Das Studium der
Deutschend Literatur. Philadelphia: National Carl Scruz Association.
·
S.Praja.Juhaya,Aliran-aliran
filsafat dan etika.(Cet II;Jakarta:Prenada Media 2005).
·
Gazalba,Sidi.Sistematika Filsafat.(Cet
IV;Jakarta: Bulan Bintang 1992)
·
R.Ravertz,Jerome.Filsafat Ilmu.diterjemahkan,Saut
Pasaribu (Cet I ;Yogykarta:PustakaPelajar 2004).
Komentar
Posting Komentar